Berharap Pulihnya Sektor Pariwisata Pasca Pandemi Covid-19

Berharap Pulihnya Sektor Pariwisata Pasca Pandemi Covid-19

Berharap Pulihnya Sektor Pariwisata Pasca Pandemi Covid-19

b-mei-kastaf

Pandemi Covid-19 telah mengakibatkan sektor pariwisata lumpuh dan menghadapi tantangan yang berat. Meski begitu, pemerintah telah menyiapkan berbagai langkah penting agar sektor pariwisata bisa bangkit kembali. “Presiden memperkirakan tahun depan terjadi booming di sektor pariwisata sehingga industri pariwisata dan ekonomi kreatif harus siap,” tegas Kepala Staf Kepresidenan Dr. Moeldoko pada acara webinar dengan tema Reopening Ekonomi Indonesia: Berdamai dengan Covid-19, Menyongsong Protokol New Normal di daerah Pariwisata se-Indonesia.

Moeldoko menjelaskan, ada tiga langkah penting yang dilakukan pemerintah sebagai upaya pemulihan sektor pariwisata. Pertama, program perlindungan sosial bagi para pekerja di sektor pariwisata dan ekonomi kreatif yang tepat sasaran. Kedua, realokasi anggaran Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif yang diarahkan pada program padat karya bagi pekerja di sektor pariwisata dan ekonomi kreatif. Ketiga, menyiapkan stimulus ekonomi bagi para pelaku usaha di sektor pariwisata dan ekonomi kreatif.
a-mei-kastaf

Setelah penerapan PSBB (Pembatasan Sosial Berskala Besar) berakhir, lanjut Moeldoko, ada berbagai aktivitas yang dilakukan masyarakat. Di antaranya adalah berkumpul dengan teman, pergi ke tempat wisata/rekreasi, tempat makan, pusat perbelanjaan, bepergian ke luar kota dan lain-lain. “Kita lihat ini sebagai peluang harus dicermati sehingga sektor pariwisata bangkit dan tumbuh kembali.”

Selain itu, hasil survey Mckinsey menyebutkan 61 persen masyarakat Indonesia sangat peduli terhadap kesehatan publik. Dengan demikian, aspek keselamatan dan kesehatan menjadi faktor penting dalam melakukan perjalanan wisata. Di sisi lain, penerapan kebijakan social/physical distancing mempengaruhi kebiasaan berwisata masyarakat. Wisatawan akan tetap berhati-hati dan lebih suka menghindari tempat wisata yang ramai.

Menurut Moeldoko, tempat wisata luar ruangan (outdoor) dan yang berhubungan dengan alam akan menjadi tujuan paling populer untuk perjalanan di masa depan. Paket wisata grup akan berkurang popularitasnya dan akan berganti dengan perjalanan mandiri. Wisatawan yang berusia muda akan melakukan perjalanan wisata terlebih dahulu. Wisatawan akan lebih memilih untuk melakukan perjalanan dengan jarak yang relatif dekat atau menempuh waktu lebih singkat. “Demografi wisatawan yang berubah dan situasi ekonomi secara keseluruhan akan menentukan pola pengeluaran wisatawan,”ujarnya.

Para pelaku di sektor pariwisata dan ekonomi kreatif juga harus mengubah pendekatan dan strategi, optimalisasi sumber daya sesuai dengan potensi pasar baik domestik dan regional, penerapan protokol keamanan dan kebersihan, pelayanan yang bisa memberi kepercayaan, higienitas proses dan fitur produk perlu dimodifikasi, komunikasi dan saluran penjualan harus menyesuaikan dengan pelanggan yang berubah. “Milenial dan Gen Z akan menggantikan generasi baby boomer. Kita harus siap menghadapi itu,” tegas Moeldoko.

Pada kesempatan yang sama, Tjokorda Oka Artha Ardana, Wakil Gubernur Bali mengatakan,
Bali sebagai destinasi utama para wisatawan lokal dan mancanegara. Sejak dua tahun lalu, Bali Utara sudah menyiapkan bandara baru di Singaraja. “Bali sudah siap 8,5 juta wisatawan setiap tahun, ini angka 80 persen dari kapasitas yang ada,” paparnya.

Namun, pandemi Covid-19 telah mengakibatkan Bali sebagai lokomotif utama pariwisata jatuh kolaps, pertumbuhan ekonomi sampai minus. Sebanyak 70 persen PAD Bali dari pariwisata, banyak pelaku wisata yang dirumahkan. Mengutip data Wagub Bali, warga yang terinfeksi covid-19 mencapai 332 orang dan yang sembuh 222 orang atau 66 persen lebih. Menurut Tjokorda, dari data itu, kondisi di Bali sangat baik, artinya sudah masuk fase landai.

Menurutnya, memasuki new normal ini, harus diperhatikan kesehatan destinasi, kesiapan protokol kesehatan pariwisata Bali pasca covid-19. “Ini kamis sebut Bali Era Baru. Selain kesehatan, keamanan dan pelayanan wisata. Strategi yang dikembangkan adalah membuka secara bertahap per kluster,” paparnya.

Webinar yang diselenggarakan oleh MASATA (Masyarakat Sadar Wisata) tersebut dihadiri pula oleh perwakilan Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif, Wakil Gubernur Bengkulu Dedy Ermansyah, Bupati Toraja Utara Kalatiku Paembanan, Walikota Tegal M Jumadi, Wakil Bupati Belitung Isyak Meirobie, Tenaga Ahli Utama Deputi I KSP Helson Siagian, dan Tito Loho dari Masyarakat Sadar Wisata.

Close