Catatan Ringan Wawancara Beritagar: Dari Mata Najwa Sampai Pernikahan Kahiyang

Catatan Ringan Wawancara Beritagar: Dari Mata Najwa Sampai Pernikahan Kahiyang

Catatan Ringan Wawancara Beritagar: Dari Mata Najwa Sampai Pernikahan Kahiyang

Jum’at, sore, 9 Februari 2018, media online Beritagar.id secara khusus mewawancarai Kepala Staf Kepresidenan Moeldoko terkait berbagai topik terkini. Perbincangan Jumat (9/2/2018) tak melulu serius, bahkan kerap diselingi guyonan dan pengalaman pribadi yang menyentuh dan humanis.

Berikut petikan perbincangan Fajar Wahyu Hermawan, Heru Triyono, Muammar Fikrie, dan fotografer Wisnu Agung Prasetyo dari Beritagar dengan Kepala Staf Kepresidenan Moeldoko.

Tentang persiapan tampil dalam acara Mata Nawja…

screen-shot-2018-02-08-at-7-01-51-pm“Jadi Pak Moel siapkan data? Tanya Beritagar. “Ya, namanya mau debat, ya kita mesti siap tempur,” ha ... ha ... ha .... gelaknya “Saya siapkan di mobil, itu tulisan tangan.”

Di sela wawancara, Kepala Staf Kepresidenan menunjukkan catatan yang masih disimpan dari dalam saku celana. “Lha ini masukan stafsus saya.”.

Tenanan tulis tangan iki (asli, ini tulisan tangan).”

“Terakhir salaman, Pak?” tanya Beritagar.

“Lho mahasiswa kan teman kita, ya mahasiswa kan curhat.”

Tentang asal-muasal kampung halaman…

bt5Kerap ditanya asal kampung halaman Pak Moel, jujur mengakui ia berasal dari desa. Repotnya, ketika si penanya rupanya paham daerah tempatnya berasal.

“Mohon maaf aku iki ndeso tenan (benar-benar desa),” hahaha.....

Pak Moel darimana? Tanya koleganya suatu ketika.

“Jawa Timur!”

“Jawa Timurnya mana? Surabaya? Kediri?” tanyanya lanjut.

“Kediri,” jawab Pak Moel

Kediri di mana pak? Kejar penanya.

“Wah mulai menelisik dia -Purwoasri,” jawab saya.

“Oh saya juga Purwoasri - deket Kyai Badrus?

“Saya makin keringeten (keringatan). Akhirnya ngaku saya di Desa Pesing! Wah.......”Desane Pesing nggak enak blas, (desanya “bau”, benar-benar tidak enak).”

Tentang kisah memberi sambutan pada pernikahan putri Presiden Jokowi…

moelsam

Banyak orang berspekulasi saat Moeldoko memberi sambutan mewakili keluarga di pernikahan puteri Presiden Jokowi, Kahiyang Ayu.

Banyak yang kaget lho, Pak? “Saya juga kaget,” ungkap Moeldoko.

Moeldoko pun blak-blakan bercerita: “Kira-kira jam 15.30 sehari sebelum hari H, saya dihubungi Pak Pratik (Pratikno, Mensekneg).

“Pak sesuk ojo mulih lho (jangan pulang habis acara),” melalui pesan WA.

“Pagi itu saya memang diundang yang jam 10. Saat itu saya belum yakin, kalau saya diminta memberi sambutan. Pas datang saya cari Pak Pratik.

Saya tanya:  “Sampeyan tenanan ta iki (Pak Praktik benar ini)? 

Sing endi (Yang mana)?”, tanya Pratikno

“WA mu iki lho (yang di WA itu?

Tenanan (benar),” jawab Pak Pratik. “Wah larilah aku ke hotel. Sepulang dari acara jam 12,” kenang Pak Moel.

“Sambutan itu langsung saya tulis sendiri di hotel, kebetulan saya ngajak Pak Edi (Staf Khusus Kepala Staf Kepresidenan Eddy Soepadmo). Lalu diprint situ. Pada acara jam 7 malam, saya sudah hadir jam 6, latihan berdiri. Lalu saya sampaikan ke Bapak (Jokowi). Saya izin untuk membaca  sedikit.

Pesan Pak Jokowi singkat saja, “Ojo suwe-suwe yo (pidatonya jangan lama-lama).”

bt1

Close