whatsapp-image-2018-09-28-at-04-58-30
BERITA KSP
 

> selengkapnya

 BERITA PRESIDEN 

 

> selengkapnya


PRODUK

 
Ruang Kendali Operasi yang dikhususkan bagi Presiden dan Wakil Presiden RI, terletak di lantai 1 Gedung Bina Graha Jakarta dan saat ini dikelola Kantor Staf Presiden sebagai pusat kendali dalam menjalankan pemerintahan dan pengendalian prioritas nasional.

Logo LAPOR

 
Portal resmi data terbuka Indonesia untuk meningkatkan pemanfaatan data pemerintah sebagai upaya Kantor Staf Presiden melakukan pembenahan atas arus data Pemerintah.

Logo LAPOR

 
Memonitor dan mengevaluasi laporan realisasi anggaran program Pemerintah Pusat dan Daerah. Sekretariat TEPRA merupakan tim gabungan dari KSP, Kemenkeu, LKPP, BPKP, BAPPENAS dan Kemendagri.

Logo LAPOR

 
Salah satu tools untuk membantu monitoring dan evaluasi program prioritas nasional. Pantau dapat digunakan baik dalam bentuk aplikasi android atau dashboard website untuk memudahkan pemantau memasukkan data dari lapangan secara langsung.

Logo LAPOR

 
Layanan Aspirasi dan Pengaduan Online Rakyat adalah sebuah sarana aspirasi dan pengaduan berbasis media sosial yang mudah diakses melalui www.lapor.go.id, SMS ke 1708, atau mobile apps.

> selengkapnya


LAPORAN TERPILIH

INFORMASI CUACA
iklim
Capture

18 hours ago

Presiden Joko Widodo

Pernah dengar gudeg ceker? Di Solo, Anda bisa menemukannya di Gudeg Mbak Yus. Mau ceker pedas atau ceker manis, tinggal pilih.

Gudeg ceker hanya satu dari begitu banyak pilihan makanan khas di Solo. Kota ini begitu kaya akan keragaman kuliner: sate daging, sate buntel, tengkleng tongseng, timlo, rawon, soto.

Semuanya enak. Nggak ada yang nggak enak.

‪Ini kata pemilik warung-warung itu: youtu.be/M0bxvqfktaA
... See MoreSee Less

View on Facebook

Selamat pagi. Sampai saat ini, saya terus mengikuti perkembangan di Tanah Papua, dan Alhamdulillah situasi di sana sudah kembali berjalan normal. Tingkat pengamanan di Papua pun kini sudah diturunkan.

Permintaan maaf sudah dilakukan, dan ini menunjukkan kebesaran hati kita bersama untuk saling menghormati, untuk saling menghargai sebagai saudara sebangsa dan setanah air.

Saya juga telah memerintahkan kepada Kapolri untuk menindak secara hukum tindakan diskriminasi ras dan etnis, yang rasis, secara tegas.

Minggu depan, jika tak ada halangan, saya akan mengundang para tokoh dari Papua dan Papua Barat, baik tokoh adat, tokoh masyarakat, juga tokoh agama, untuk berbicara masalah percepatan kesejahteraan di Tanah Papua.
... See MoreSee Less

View on Facebook

Sebelum kembali ke Jakarta, kemarin sore, saya mampir di Pelabuhan Tenau, Kota Kupang, meninjau aktivitas bongkar muat di sana. Saya sempat menyaksikan pengangkutan hewan ternak ke Kapal Ternak Camara Nusantara 3. Kapal hendak membawa 470 ekor sapi ke Kalimantan.

Kapal-kapal pengangkut ternak sapi dari NTT paling banyak ke Jakarta. Dari enam trayek kapal ternak, lima trayek dari NTT. Dulunya kapal-kapal hampir kosong, lama-lama terisi, sekarang malah penuh terus. Karena itu, subsidi dari pemerintah juga sudah jauh berkurang. Setiap tahunnya, sekitar 70.000 sapi dikirim dari NTT ke Pulau Jawa, terutama ke Jakarta dan sekitarnya.

Kapasitas Pelabuhan Tenau sendiri masih bisa dioptimalkan. Aktivitas bongkar muat di tahun 2018 di pelabuhan ini baru hampir separuh kapasitasnya yang 240.000 TEUs per tahun.

Pemerintah mengupayakan agar ke depannya, selain kapal ternak, Pelabuhan Tenau juga dipadati dengan hilir mudik kapal-kapal yang membawa muatan ke daerah lainnya. Garam, misalnya. Sapi yang dikirim juga sudah berupa daging beku.
... See MoreSee Less

View on Facebook

Tambak-tambak garam Desa Nunkurus, Kupang Timur, di NTT kini sudah berproduksi dengan baik. Kualitas garamnya bagus, lebih putih, bisa masuk ke garam industri, dan kalau diolah lagi bisa juga menjadi garam konsumsi.

Pengembangan industri garam di NTT memerlukan investasi yang tak sedikit. Di seluruh provinsi ini luas tambak garam 21.000 hektare. Di Kupang saja 600 hektare dan yang sudah berproduksi baru 10 hektare termasuk di Desa Nunkurus yang saya kunjungi hari ini.
... See MoreSee Less

View on Facebook

Ini cerita dari empat tahun lalu, saat saya berkunjung ke Abu Dhabi, Uni Emirat Arab. Saya dijemput Putra Mahkota Sheikh Mohamed bin Zayed di tangga pesawat.

Begitu turun saya diajak naik mobil beliau. Sheikh Mohamed sendiri yang duduk di balik kemudi. Tak banyak aturan protokol, begitu cepat dan sederhana.

Sheikh Mohamed sempat bertanya: "Presiden Jokowi izin dulu ke protokol?" Ah, saya enggak usah izin, saya langsung naik saja. Kalau saya ngomong pasti enggak boleh demi keamanan 😀

Lalu kami melaju. Saya merasa mobilnya biasa saja, jalannya pelan. Tapi begitu saya melirik speedometer, 190-200 kilometer per jam. Duh, kencang sekali mobilnya, ternyata. Saya lirik-lirik, cari-cari ini merek mobilnya, tidak ketemu. Dan saya tidak bertanya ke Sheikh Mohamed. Malu, jangan-jangan beliau nanti: "Presiden Jokowi ini ndeso banget" 😂

Tapi kami mengobrol soal lain. Soal kemajuan kedua negara. Kita ingat, Uni Emirat Arab punya minyak, kita juga punya minyak. Dia punya gas, kita juga punya. Tapi di sana tak ada kayu, kita punya kayu, saat itu kita bahkan punya BUMN kayu. Minerba kita punya semuanya, dari batu bara, emas, nikel, bauksit, tembaga ... semuanya.

Tetapi sekarang ini, kita tahu, income per kapita di sana USD43.000, kita USD4.000. Bagaimana bisa? Kenapa UEA melompat begitu cepat? Padahal, kata Sheikh Mohamed, "Presiden Jokowi, tahun 60-an kami dari Dubai ke Abu Dhabi masih naik unta." Kita ingat saat itu kita sudah naik Holden dan Impala.

"Tahun 70-an kami dari Dubai ke Abu Dhabi masih naik truk dan mobil pick up," kata Sheikh Mohamed. Kita tahun itu sudah naik Toyota Kijang.

Menginjak tahun 1980-1985, di sana orang-orang sudah lalu lalang dengan mobil mewah bermerek Mercedes Benz, BMW... Kita masih naik Kijang. Income perkapita mereka melompat jauh.

Nah, kunci kemajuan itu apa? Kuncinya kecepatan. Cepat di perizinan, sederhana di regulasi. Perizinan yang butuh waktu tahunan di tempat kita, di UEA setengah jam sahaja.

Sering saya sampaikan, ke depan negara besar tidak lagi menguasai negara kecil, atau negara kaya menguasai negara miskin. Yang terjadi, negara cepat akan menguasai negara yang lambat. Jadi, kita harus cepat. Kecepatan itulah yang akan membawa negara ini menjadi negara maju.
... See MoreSee Less

View on Facebook
BERITA VIDEO Maknai Kemerdekaan dengan Kerja dan Karya
 PresidenRI-Logo-Edited1-300x79 Logo-Wapres Logo-Setneg Logo-Setkab
PROGRAM PRIORITAS

Bagikan Situs Ini :

Close