Investasi di Indonesia Masih Atraktif, Rupiah Kembali Menguat

Investasi di Indonesia Masih Atraktif, Rupiah Kembali Menguat

Investasi di Indonesia Masih Atraktif, Rupiah Kembali Menguat

JAKARTA – Penguatan rupiah dalam dua bulan terakhir membuktikan bahwa Indonesia masih menjadi tempat investasi yang menguntungkan. Investor asing terlihat kembali membeli surat berharga Indonesia. Minat asing tentu tidak terlepas dari kondisi ekonomi makro Indonesia yang relatif baik.

Berdasarkan data Bloomberg, nilai tukar rupiah di pasar spot sempat menyentuh Rp 15.238 per dollar AS pada 9 Oktober 2018. Namun, awal pekan ini, 3 Desember 2018, rupiah telah kembali menguat ke  Rp 14.244 per dollar AS. Dalam kurun waktu kurang dari dua bulan, rupiah berhasil menguat 6,5%.

Rupiah menguat salah satunya berkat masuknya dana asing ke pasar modal Indonesia. Di Bursa Efek Indonesia (BEI), selama 5 Oktober hingga 6 Desember 2018, asing mencatatkan beli bersih Rp6,48 triliun. Kepemilikan asing di surat utang pemerintah pun meningkat 5,4% atau Rp46,17 triliun, dari Rp853,77 triliun (3/10) menjadi Rp899,94 (3/12).

Selain itu, pemerintah berhasil menjual Surat Utang Negara (SUN) dalam denominasi dollar senilai US$3 miliar pada 4 Desember lalu. Imbal hasil yang ditawarkan bervariasi sesuai dengan tenor, yakni 4,48% untuk tenor 5 tahun, 4,78% untuk tenor 10 tahun, dan 5,38% untuk tenor 30 tahun.

Namun, Deputi III Kepala Staf Presiden Denni Puspa Purbasari menyanggah penerbitan surat utang ini adalah upaya pemerintah untuk mendongkrak nilai tukar rupiah terhadap dollar AS. Penerbitan surat utang ini ditujukan untuk mendanai Anggaran Belanja dan Pendapatan Negara (APBN) 2019.

“Ini karena Presiden Jokowi ingin, Januari nanti, kita sudah langsung melakukan eksekusi pembangunan. Jadi, ini soal manajemen cash flow. Kalau kita butuh membiayai pembangunan secepat mungkin, sumber pendanaannya dari mana? Kalau saat ini kita melihat sebagai saat yang tepat untuk mencari dana lewat penjualan surat utang, ya, kita jual saat ini,” jelas Denni saat menjadi narasumber Indonesia Business Forum di TV-One, Kamis, 6 Desember 2018.

Faktor domestik dan global

Penyandang predikat doktor ekonomi dari University of Colorado at Boulder Amerika Serikat tersebut tak menampik, tren bunga yang naik membuat Indonesia lebih atraktif bagi investor portofolio. Namun, kemampuan pemerintah mengelola ekonomi makro dengan baik juga menjadi pertimbangan investor.

“Kalau pengelolaan makro ekonomi Indonesia buruk, mau setinggi apa pun imbal hasil yang ditawarkan, investor tidak akan mau beli,” tutur Denni, yang membidangi kajian dan pengelolaan isu-isu ekonomi strategis di Kantor Staf Presiden.

Salah satu ukuran untuk mengetahui kondisi makro ekonomi Indonesia adalah emerging market vulnerability scorecard dari Bloomberg. Indikator ini mengukur seberapa rentan ekonomi suatu negara terhadap berbagai perubahan situasi global.

“Ketika rupiah mencapai Rp 15.000an, kita di posisi nomor 3 atau 4 terentan diantara emerging market, dan hari ini, kita di nomor 9. Artinya, variabel makro ekonomi kita membaik,” ungkap Denni, yang pernah menjadi asisten staf khusus Wakil Presiden Boediono.

Di samping kondisi fundamental di dalam negeri, Denni mengakui, faktor global lebih mempengaruhi penguatan rupiah saat ini. Pertama, kemungkinan ekonomi Amerika Serikat (AS) melambat sehingga menunda kenaikan suku bunga The Fed. Kedua, kemungkinan Brexit tidak akan terjadi sehingga menenangkan pelaku pasar.

Tidak baper karena investor galau

ib4Akademisi Universitas Gadjah Mada itu menambahkan, sebagian dana yang masuk ke pasar modal Indonesia memang merupakan hot money dari investor jangka pendek. Denni menjuluki mereka ‘investor galau’ merujuk pada perilakunya yang gampang datang dan pergi, dipicu oleh sentimen sesaat.

Pergerakan dana panas tersebut tidak terelakkan karena Indonesia menganut rezim devisa bebas. Konsekuensinya, kata Denni, keluar-masuknya dana panas ini bisa menyebabkan pelemahan dan penguatan nilai tukar rupiah. “Jadi, kami melihatnya tidak baperan. Ketika rupiah melemah, tidak perlu panik, tapi ketika menguat, juga tidak perlu terlalu happy. Karena hot money is part of our life,” ujar penerima beasiswa Fulbright ini.

Meski demikian, Denni menyebut, dibandingkan investor jangka pendek, saat ini masih lebih banyak investor institusi yang menempatkan dananya di Indonesia. Mereka biasanya mempunyai orientasi investasi jangka menengah-panjang. Dalam berinvestasi, investor institusi ini lebih mempertimbangkan faktor fundamental ketimbang sentimen sesaat.

Menyikapi penguatan rupiah saat ini, Wakil Ketua Kamar Dagang Indonesia (Kadin) Suryani Sidik Motik mengatakan, bagi pengusaha, yang paling penting adalah pelemahan atau penguatan rupiah tersebut dapat diperkirakan. Eksportir tentu akan lebih senang jika dollar menguat karena berpotensi mendapatkan untung lebih banyak.

“Tapi, karena masih banyak bahan baku dari produk kita harus impor, maka lebih banyak yang senang kalau rupiah menguat daripada melemah mendadak,” imbuh Suryani, yang juga menjadi narasumber dalam program tersebut.

Sementara, ekonom senior dari Universitas Indonesia Faisal Basri mengapresiasi langkah Bank Indonesia yang menaikkan suku bunga acuan, BI 7-day (reserve) repo rate, beberapa kali untuk meredam pelemahan rupiah. Kebijakan BI ini cukup mampu mengimbangi kenaikan suku bunga Federal Reserve (The Fed), yang bertujuan menarik likuiditas ke Amerika Serikat.

Terkait tentang suku bunga, Denni menambahkan, Indonesia sebagai small open economy akan selalu mengikuti suku bunga internasional. Jika suku bunga Amerika naik, maka suku bunga Indonesia juga naik. Ini sudah rumus. Suku bunga Indonesia yang lebih tinggi daripada suku bunga di Amerika pun adalah hal normal karena adanya inflasi dan ekspektasi depresiasi.

Tugas jangka panjang

ibf1Kendati optimistis dengan kondisi makro ekonomi Indonesia, Denni menyadari, pemerintah Indonesia masih punya pekerjaan rumah besar. “Pekerjaan rumah terbesar pemerintah adalah memastikan kebijakan yang bersifat struktural dan fundamental in place dan membuat kemajuan secara terus-menerus,” ujar Denni.

Salah satu persoalan yang paling disoroti adalah memperbaiki defisit transaksi berjalan atau current account deficit (CAD) dan defisit primer. CAD inilah yang ditengarai membuat tren rupiah terus melemah dalam jangka panjang. Untuk memperbaikinya, pemerintah perlu mendorong ekspor dan investasi. Caranya, antara lain dengan memperbaiki infrastruktur, memperbaiki logistik, memberikan insentif, dan menghilangkan berbagai hambatan struktural dalam berusaha.

Presiden Joko Widodo menargetkan, tingkat kemudahan berusaha atau ease of doing business (EODB) di Indonesia membaik ke posisi 40, dari posisi 73 saat ini. Tentu, ini bukan perkara mudah. Sebab, tantangannya tidak hanya bagaimana mengkoordinasikan banyak kementerian dan lembaga, tapi juga memastikan pemerintah daerah memahami dan bergerak ke arah yang sama. Ditambah lagi, tantangan dari ketidakpastian global yang dibayangi perang dagang, dinamika geopolitik, dan kelesuan ekonomi.

Agar ekonomi terus tumbuh, menurut Denni, ada tiga hal yang mesti diperhatikan. Pertama, memastikan pengelolaan makro ekonomi kita hati-hati. Kedua, koordinasi antara BI dan pemerintah harus kuat. Ketiga, memastikan perbankan dan sektor keuangan kita mengikuti standar Basel III. “Supaya ketika terjadi angin ribut atau tekanan global, sektor mikro kita, yaitu perbankan dan sektor keuangan kita juga solid. Karena tidak akan ada pertumbuhan tanpa stabilitas,” ujar alumnus University of Illinois at Urbana-Champaign ini.

Lebih jauh, Denni menegaskan, upaya untuk memperbaiki hal-hal yang bersifat struktural, termasuk CAD dan defisit primer, tidak bisa dilakukan dalam sekejap.

“CAD dan defisit primer sudah terjadi sejak 2012. Ini adalah masalah yang harus diselesaikan dalam jangka panjang. Tidak ada jalan pintas. Yang jelas, Pemerintah mendengar, Pemerintah akan terus memperbaiki,” tandasnya.jauh

Close