Komitmen Pemerintah dan Bank Indonesia Jaga Ketahanan Ekonomi

Komitmen Pemerintah dan Bank Indonesia Jaga Ketahanan Ekonomi

Komitmen Pemerintah dan Bank Indonesia Jaga Ketahanan Ekonomi

JAKARTA – Kepala Staf Kepresidenan Moeldoko menerima dan mendiskusikan perkembangan ekonomi terkini dengan Deputi Gubernur Senior Bank Indonesia, Mirza Adityaswara, Rabu 13 Februari 2019. Pada kesempatan tersebut, Mirza memaparkan perubahan kondisi lingkungan global yang berdampak pada ekonomi Indonesia.

Terdapat dua perubahan global yang sangat mempengaruhi ekonomi Indonesia. Pertama, suku bunga Amerika yang dulu hanya 0,25% sekarang menjadi 2,5%, padahal suku bunga merupakan ‘gula-gula’ bagi aliran kapital global. Tahun lalu, ketika suku bunga Amerika naik empat kali, kapital global berpindah deras dari Indonesia ke Amerika. Dampaknya, nilai tukar rupiah melemah tajam.

Sebaliknya, ketika Amerika menahan kenaikan suku bunga, kapital global kembali mengalir ke Indonesia. Rupiah membaik saat ini. “Di tengah situasi global yang demikian, kebijakan Bank Indonesia utamanya diarahkan untuk menjaga stabilitas moneter dan sistem keuangan domestik,” urai Mirza.

Sementara itu, Kepala Staf Kepresidenan menyampaikan pentingnya upaya menjaga ekspektasi publik untuk tetap optimis.

“Komunikasi kepada publik mengenai kinerja ekonomi dan kebijakan Pemerintah maupun Bank Indonesia harus terus dilakukan,” tegas Moeldoko.

Faktor kedua adalah perlambatan ekonomi di Tiongkok. Dahulu ekonomi Tiongkok bisa tumbuh 12%, sekarang turun drastis menjadi 6,5%. Perlambatan ini berpengaruh buruk pada perdagangan global. Berkurangnya permintaan dari Tiongkok mengakibatkan harga komoditas dunia anjlok.

Alhasil, dampak negatif perlambatan ini juga dirasakan Indonesia karena harga komoditas andalan ekspor seperti minyak sawit dan karet turun tajam. Akibatnya, penerimaan ekspor Indonesia tergerus. Sementara, impor kita masih tinggi. Inilah yang menyebabkan defisit transaksi berjalan meningkat tajam tahun lalu.

Di sisi impor, migas merupakan salah satu penyumbang impor yang besar akibat konsumsi BBM yang tinggi terutama untuk transportasi. Konsumsinya akan terus bertambah sejalan dengan meningkatnya pertumbuhan ekonomi. Sehingga, perlu upaya untuk mengerem konsumsi BBM. Untuk itu, Pemerintah sejak tahun lalu sudah menerapkan kebijakan pencampuran minyak sawit 20% ke Bahan Bakar Minyak (BBM) jenis solar (B20) dengan tujuan mengurangi impor migas.

“Kebijakan Pemerintah untuk mendorong penggunaan B20 sudah benar. Kebijakan ini akan membantu mengurangi impor migas dan memperbaiki defisit transaksi berjalan Indonesia,” tegas Mirza.

Selain mengurangi impor, upaya mengurangi defisit transaksi berjalan juga dilakukan dengan mendorong peningkatan ekspor industri manufaktur. Saat ini, ekspor tekstil dan alas kaki Indonesia masih memiliki prospek yang bagus meskipun menghadapi persaingan yang berat dari negara tetangga, seperti Vietnam. Industri lain yang terus didorong yakni industri pariwisata untuk menambah penerimaan devisa ekspor dari wisatawan mancanegara.

Ke depan, dengan kondisi global yang masih tidak pasti, Pemerintah bersama Bank Indonesia berkomitmen untuk terus mengambil langkah-langkah yang diperlukan guna menjaga ketahanan ekonomi Indonesia. Termasuk di dalamnya penerapan kebijakan yang berdampak positif untuk menurunkan defisit transaksi berjalan.

 

 

Close