Moeldoko: Lima Tahun Terakhir Presiden Jokowi Membangun Harapan Yang Nyata

Moeldoko: Lima Tahun Terakhir Presiden Jokowi Membangun Harapan Yang Nyata

Moeldoko: Lima Tahun Terakhir Presiden Jokowi Membangun Harapan Yang Nyata

JAKARTA - Di tengah situasi geopolitik dunia diwarnai oleh budaya ketakutan dan budaya penghinaan, Indonesia justru membangun budaya harapan dari waktu ke waktu. Dalam lima tahun terakhir, Presiden Jokowi telah membangun budaya harapan yang sangat nyata.

Penegasan tersebut disampaikan oleh Kepala Staf Kepresidenan Moeldoko dalam kuliah umum bertema Tantangan Ketahanan Nasional Masa Kini pada program studi Kajian Pertahanan Nasional Universitas Indonesia, Salemba, Jakarta, Kamis, 17 Oktober 2019.

Menurutnya, budaya harapan ditumbuhkan lewat pembangunan infrastruktur, sebuah fondasi untuk menciptakan lompatan yang lebih besar. “Kita tidak bisa membuat lompatan jika dasar pijakan kita tidak kuat,” tandasnya.ui4

Tujuannya dari budaya harapan, seperti dikatakan Kastaf mengutip pernyataan Presiden Jokowi adalah Indonesia yang tidak satupun warga negaranya tertinggal dalam meraih cita-cita. Indonesia yang demokratis, berdasar hukum, sanggup meraih kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi, serta mampu menjaga dan mengamankan negara dari berbagai persaingan kompetisi di kancah global.

Dalam kata pembukaan Kaprodi Kajian Pertahanan Nasional Dr. Arthur Josias Simon Runturambi, M.Si., mengatakan program studi ini dihadapkan tantangan akademik. Yakni mesti mampu merespons fenomena ketatanegaraan yang ada serta menjelaskan kondisi dinamis di tengah lingkungan strategis yang berubah.ui1

Di hadapan 250 orang peserta yang antusias dan di moderatori oleh Dr. Margaretha Hanita M.Si, Kepala Staf Kepresiden mengurai tantangan yang berpengaruh pada ketahanan nasional. Diantaranya adalah kondisi global yang diwarnai oleh lima fenomena. Dunia telah berubah dengan sangat cepat, penuh dengan risiko, kompleks, dan kerap mengejutkan.

“Kita bukan hanya menghadapi negara kuat dan besar, tapi kita berada dalam pusaran perubahan yang cepat. Kalau kita tidak cepat dan masih bekerja dengan cara linier, apalagi menikmati zona nyaman, akan ketinggalan,” tegasnya.ui45

Toh, di tengah tantangan tersebut selalu ada peluang, khususnya dalam era industri 4.0. Itulah sebabnya Kastaf mengajak agar memahami situasi ini secara positif, sebab jika melihatnya secara pesimis, maka akan tergilas.

Dalam pandangan Kepala Staf Kepresidenan yang juga menggondol gelar Doktor ilmu administrasi dari FISIP UI ini, untuk menjaga ketahanan nasional perlu stabilitas dan demokrasi. Ada kecenderungan, demokrasi yang berlebihan akan menghasilkan anarkis. “Beda antara demokratis dan anarkis, sangat-sangat tipis.”ui25

Menjawab pertanyaan hadirin, soal tantangan menghadapi persaingan dengan negara lain, Panglima TNI 2013-2015 ini menyatakan strategi Indonesia adalah dengan membangun kemampuan bersaing. Diantaranya memotong regulasi yang menghambat investasi. Menggenjot infrastruktur untuk menurunkan biaya logistik, menjaga demokrasi, dan meningkatkan mutu SDM.

“Agar punya daya tarik bagi investor, negara harus menyiapkan sesuatu. Bagaimana stabilitas keamanan, politik, ekonomi. Ada nggak kepastian, biaya logistik rendah atau tidak. Kalau tidak dibenahi dengan baik pasti investor nggak mau,” tukasnya.ui2

Close