Ruang Publik Sehat, Syarat Merawat Toleransi

Ruang Publik Sehat, Syarat Merawat Toleransi

Ruang Publik Sehat, Syarat Merawat Toleransi

JAKARTA – Salah satu tantangan utama dalam merawat toleransi dan menghormati keberagaman adalah keruhnya ruang publik dengan hoaks, sehingga berbagai kesuksesan dalam menjaga kebhinekaan luput dari perhatian publik.

Hal ini disampaikan oleh Tenaga Ahli Utama Kedeputian IV Kantor Staf Presiden Binny Buchori,  saat memberi sambutan pembukaan pada Lokakarya Pasca-Studi Singkat Kepemimpinan Perempuan dalam Organisasi Lintas Agama di Jakarta, Selasa, 12 Februari 2019.

Lokakarya yang diadakan ini merupakan kegiatan pasca studi singkat yang dibiayai penuh oleh Pemerintah Australia melalui Australian Awards bagi 29 pemimpin perempuan dari organisasi lintas agama yang telah lulus seleksi dan menjalankan studi singkat selama 2 minggu di Deakin University, Australia.

Menurut Binny Buchori, hoaks yang sudah mendominasi ruang publik adalah akibat adanya Firehose of Falsehood atau FOF.  “FOF adalah  strategi propaganda yang digunakan untuk mempengaruhi persepsi orang dengan menyebarkan informasi yang negatif, salah, dan mewujudkan rasa takut,” katanya.

FOF menyerang amygdala, bagian otak yang bertugas mendeteksi rasa takut dan mempersiapkan diri pada kondisi darurat. Hal ini menghasilka fear, uncertainty and doubt atau FUD. Akibatnya  orang menjadi tidak rasional dan akan mengedepankan emosi.

Hal ini diperparah dengan banyaknya pengguna internet dan sosial media di Indonesia. Sampai dengan tanggal  31 Desember 2018, penggungah internet di Indonesia tercatat sebesar 143 juta dengan 130 juta penduduk adalah pengguna aktif sosial media.  Kombinasi antara ruang publik yang keruh dan dominannya sosial media, maka masyarakat akan sangat mudah terbelah.

Karena itu Binny  menekankan bahwa sangat penting  bagi para pemimpin perempuang mempunyai kesadaran dalam mendeteksi Firehose of Falsehood (semburan kebohongan) agar prioritas menciptakan ruang publik yang sehat dapat dicapai.

“Untuk itu, perempuan perlu menguasai berbagai keahlian baru di era digital ini, antara lain menguasai literasi digital dan menguasai sosial media secara komprehensif, agar dapat menggunakannya sebagai alat advokasi mewujudkan toleransi, perdamaian dan penghormatan atas keberagaman,” katanya.bbb2

Binny menambahkan, perempuan Indonesia memiliki peran penting dalam menyemai toleransi, menghargai keberagaman, serta melawan perpecahan. Menurutnya sudah banyak bukti bahwa perempuan Indonesia sangat berperan dalam menangani resolusi konflik. Di samping mampu menjadi aktor kunci dalam toleransi,  perempuan juga memiliki peran penting dalam memperjuangkan kesejahteraan dan juga melawan kekerasan.

Binny menegaskan, pemerintahan Jokowi-JK sangat sadar akan arti penting peran perempuan.  Ini terlhat dari berbaagai posisi kunci yang dipegang perempuan. “Presiden Joko Widodo dalam pemerintahannya sangat menitikberatkan peran perempuan, terlihat dari penempatan 8 perempuan hebat dalam Kabinet Kerja beliau dalam posisi-posisi strategis, “ urai Binny.

Lebih lanjut Binny menyampaikan  apresiasi komitmen Pemerintah Australia dalam pemberdayaan perempuan sebagai aktor utama di masyarakat melalui program Kepemimpinan Perempuan dalam Organisasi Lintas Agama.

Turut hadir dalam acara ini antara lain Daniel Hunt, Program Director Australian Awards, Boyd Whelan, Sekretaris Dua Bidang Politik Kedutaan Besar Australia, Justina Rostiawati Ketua Wanita Katolik Republik Indonesia, Dyah Puspitarini Ketua Umum Nasyiatul Aisyiyah Muhammadiyah dan Anggia Ermarini Ketua Umum Fatayat Nahdlatul Ulama.bbb3

Close