Rumus Kepemimpian ala Moeldoko di depan Peserta Sekolah Pemimpin Muda Indonesia

Rumus Kepemimpian ala Moeldoko di depan Peserta Sekolah Pemimpin Muda Indonesia

Rumus Kepemimpian ala Moeldoko di depan Peserta Sekolah Pemimpin Muda Indonesia

JAKARTA - Era ‘Indonesia Emas’ atau 100 Tahun Indonesia Merdeka pada 2045 akan berada di tangan anak-anak muda yang pada tiga dekade ke depan akan menjadi para pemimpin bangsa. Itu artinya, sambung semua kepemimpinan dalam lingkup lembaga, kementerian, sampai dengan pejabat di dalamnya berada di tangan anak-anak muda yang rata-rata sekarang berumur 25 tahun.  

Pernyataan itu ditegaskan Kepala Staf Kepresidenan Moeldoko saat memberikan sambutan menerima peserta Kader Bangsa Fellowship Program  Sekolah Pemimpin Muda Indonesia, di Kantor Staf Presiden, Jum’at, 9 Februari 2018.

Yakinlah pada saya, dengan sistem politik saat ini. Siapapun bisa menjadi apapun dan kapanpun,” tegas Moeldoko.

Seperti tak mau kalah dengan semangat yang dibawa oleh peserta Kader Bangsa Fellowship itu, Kepala Staf Kepresidenan Moeldoko memberikan sambutan dan arahan sambil berdiri.

Biar adil, nggak puas kalau nggak berdiri. Sebuah kehormatan bagi saya bisa bertemu dan bersilaturahim dengan teman-teman sekalian,” ungkapnya.

Dalam pengantarnya, Deputi IV Kepala Staf Kepresidenan Eko Sulistyo menjelaskan, sekolah kader kepemimpinan ini dikreasi oleh Dimas Oky Nugroho, sebagai kepala sekolah. Mereka adalah kader muda lintas wilayah yang melibatkan berbagai latar belakang profesi,” jelas Eko.

Dimas Oky Nugroko, memaparkan, sekolah ini merupakan program komprehensif untuk calon pemimpin muda. Selain belajar di kelas, para siswa juga menimba ilmu di lapangan menemui para pejabat pemerintahan. Kami juga mengundang beberapa pakar kebangsaan, kepemimpinan, dan kewirausahaan untuk memperluas wawasan para siswa,” katanya.

Dilihat dari latar asal daerah, para peserta datang dari seluruh Indonesia dengan beragam latar belakang profesi. Mulai dari dosen, kepala daerah, ormas kemahasiswaan, aktivis, jurnalis, entreprenur, pegiat digital, ilmuwan, politisi, konsultan bisnis, pengusaha, dsb.

Mimpi besar anak muda

kader4Dalam arahannya, Kepala Staf Kepresidenan memfokuskan pada bagaimana memimpin dan membangun Indonesia dalam kacamata kaum muda di era digital.

Diingatkan, kaum muda mesti punya mimpi yang tinggi dan gagasan besar. Namun di sisi lain, perlu juga memahami hal detail, teliti, dan tersistem. Ini lantaran semua kebijakan publik bersifat holistik.

Lebih dari itu, pemimpin adalah pembuat keputusan. Di tengah beragam persoalan, ia harus memutuskan. Untuk membuat keputusan pemimpin perlu didukung informasi dan diperkuat oleh intuisi. Intuisi ini ditimba dari berbagai pengalaman. Intinya adalah sebuah proses belajar terus-menerus.

Jadi nikmatilah ketika Anda bekerja di mana pun. Itu adalah  akumulasi dan agregat. Yakinlah kepada saya, itu sebuah kapital dalam membangun intuisi seorang pemimpin. Itu rumus kepemimpinan, tandas Moeldoko.

Kepala Staf lantas memberi gambaran bagaimana saat menjadi tentara, ia sudah dilatih menjadi pemimpin. Saat dilantik sebagai perwira pertama, ia harus memimpin 46 orang. Setelah tiga tahun, meningkat menjadi memimpin 145 orang. Tujuh tahun kemudian, sebagai wakil komandan batalion memimpin 700 orang, plus dua tahun sebagai komandan batalion. Lalu, 20 tahun kemudian memimpin 17 ribu orang, dan seterusnya.

Maknanya, proses belajar harus dinikmati. Cermat dan detil dalam bersikap. Sehingga nanti begitu kalian dalam tataran strategik dan politik sudah mapan,” paparnya.

Moeldoko mengungkapkan, seorang pemimpin juga wajib memahami masa depan. Bahkan, harus bisa membuat skenario di tengah dunia yang diwarnai perubahan, kecepatan, kompleksitas, dan risiko.

Dunia telah menuju ke sana teman-teman. Sepuluh tahun ke depan ada tren yang tidak bisa dihindar. Persoalan energi, lingkungan, teknologi, robotik, dan kecerdasan buatan. Semua perubahan membawa perubahan struktur lingkungan yang luar biasa,” jelasnya.

Oleh karena itu Kepala Staf Kepresidenan mengingatkan agar anak muda membangun jaringan dan kepercayaan untuk kepentingan nasional.

Dalam tanggapannya Dinda, yang bekerja di perwakilan daerah memaknai arahan Kastaf sebagai sebuah spirit. Yang dikatakan Kepala Staf Kepresidenan adalah sebuah spirit yang akan kami jaga," tegasnya.

Sementara Febri, asal Bali menanyakan bagaimana menumbuhkan rasa nasionalisme di era digital. Argi dari Surabaya juga bertanya  bagaimana agar anak muda bersemangat dalam bekerja.

Tiak dari Bali, tentang pengasuhan anak agar nantinya menjadi pribadi tangguh.

Dalam tanggapannya, Moeldoko yakin lingkungan saat ini memberikan dukungan yang luar biasa dalam melahirkan generasi   hebat di masa depan. “Generasi muda sekarang, memiliki kelebihan, kemampuan berlogikanya sangat cepat,” ungkapnya.

Jadi, yang penting adalah mengoptimalisasi kondisi yang ada, berani menghadapi tantangan, dan tidak gampang menyerah.

Waktu itu kalau saya menyerah dengan keterbatasan yang saya miliki, pasti saya tidak seperti ini. Bayangkan orang tua saya membelikan saya sepeda saja nggak bisa. Saya harus lari-lari pagi naik kereta. Seringkali nggak dibawain duit karena memang nggak punya duit. Seringkali kejar-kejaran dengan kondektur karena nggak punya uang, padahal hanya 10 perak,” kenangnya.

Prinsipnya, semangat pantang menyerah wajib dimiliki oleh para calon pemimpin.

kader3

Close