Tanwir Muhammadiyah: Upaya Menjadikan Agama Sebagai Sarana Pencerahan

Tanwir Muhammadiyah: Upaya Menjadikan Agama Sebagai Sarana Pencerahan

Tanwir Muhammadiyah: Upaya Menjadikan Agama Sebagai Sarana Pencerahan

Laporan Tenaga Ahli Utama Kedeputian V Abd Rohim Ghazali 

BENGKULU - Rapat Kerja Nasional (Rakernas) dalam organisasi Muhammadiyah disebut dengan Sidang Tanwir. Dari segi bahasa, tanwir (Arab) berarti pencerahan. Jadi, sesuai namanya, tujuan Sidang Tanwir adalah untuk melakukan pencerahan.

Pada tahun 2019 ini, Tanwir Muhammadiyah mengambil tema ‘Beragama yang Mencerahkan’, diselenggarakan di Universitas Muhammadiyah Bengkulu dari 15-17 Februari 2019. Selain Sidang Tanwir, diselenggarakan juga diskusi buku dan seminar nasional yang bertujuan untuk memerangi hoaks dan meningkatkan tradisi literasi di Indonesia dengan menghadirkan pembicara antara lain Menteri Komunikasi dan Informatika Rudiantara.

Dalam acara pembukaan, Presiden Joko Widodo sebagai kepala negara menyampaikan terima kasih kepada Muhammadiyah karena telah banyak berkontribusi sejak masa kemerdekaan hingga saat ini. Menurut Presiden, dari Muhammadiyah telah lahir sejumlah pahlawan dari KH Ahmad Dahlan, Siti Walidah Dahlan, Sukarno, Fatmawati Sukarno, Jenderal Sudirman, dan lain-lain hingga Kasman Singodimejo. Presiden juga berterima kasih karena Muhammadiyah telah ikut serta mencerdaskan kehidupan bangsa melalui lembaga-lembaga pendidikan yang dimilikinya. Muhammadiyah juga berperan dalam bidang kesehatan dan sosial.

“Barangkali ada yang belum tahu, Ibu Iriana, berkuliah di Universitas Muhammadiyah. Cucu saya, Jan Ethes, lahir di RS PKU Muhammadiyah Solo,” kata Jokowi yang disambut tepuk tangan para hadirin. Selanjutnya Jokowi membuka secara resmi Sidang Tanwir Muhammadiyah dengan memukul ‘doll’ alias gendang tradisional Bengkulu.tan3

Selain Presiden Jokowi, hadir dalam pembukaan Tanwir sejumlah menteri seperti Menteri Kelautan dan Perikanan Susi Pujiastuti, Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Muhajir Effendy, Menteri Agama Lukman Hakim Saifuddin, Menteri Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) Basuki Hadimuljono, Menteri Komunikasi dan Informasi Rudiantara, dan Kepala Staf Kepresidenan Moeldoko. Seusai acara resmi, para menteri, termasuk Pak Mul (panggilan akrab Moeldoko)  menjadi rebutan peserta Tanwir untuk berfoto bersama. Semua tampak ceria meskipun sebelum acara dimulai sempat diwarnai turunnya hujan rintik-rintik.

Ketua Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah, Haedar Nashir, dalam pidato pembukaan menegaskan bahwa mengapa Tanwir kali ini bertema ‘Beragama yang Mencerahkan’ setidaknya didasari dua pertimbangan: poertama, Muhammadiyah maupun umat Islam agar menyebarluaskan pesan-pesan dan praktik Islam yang mencerahkan kehidupan sehingga menjadikan setiap Muslim yang cerah hati, pikiran, sikap, dan tindakan yang disinari nilai-nilai ajaran Islam yang luhur dan utama.abd2

Kedua, dalam kehidupan sehari-hari masih dijumpai sebagian pemahaman dan pengamalan Islam yang tidak atau kurang menunjukkan pencerahan sehingga menimbulkan masalah dalam kehidupan umat dan bangsa seperti sikap ghuluw atau ekstrem dalam beragama, intoleransi, kekerasan, takfiri, penyebaran hoaks, politisasi agama, ujaran-ujaran buruk yang menebar amarah, kebencian, dan permusuhan atas nama agama, serta praktik hidup yang menggambarkan kesenjangan antara lisan dan perbuatan. Padahal, menurut Haedar, jika dirujuk pada kandungan al-Quran, Sunnah Nabi, dan praktik kerisalahan Nabi Muhammad selama 23 tahun sesungguhnya Islam merupakan agama yang membawa nilai-nilai dan praktik kehidupan yang mencerahkan.

“Muslim yang tercerahkan oleh ajaran Islam tidak akan mudah menebar marah, kebencian, memecah belah, permusuhan, memproduksi hoaks, korupsi, kolusi, nepotisme, menmyalahgunakan kekuasaan, berpolitik menghalalkan segala cara, mengeksploitasi alam secara semena-mena demi keuntungan sendiri, dan berbuat kerusakan di muka bumi,”  tandas Haedar yang mengundang tepuk tangan hadirin.

tan4Haedar mengakui, di tubuh organisasi kemasyarakatan dan keagamaan pun mulai menggejala kecenderungan sikap intoleransi. Sikap mudah saling menyesatkan dan mengafirkan mulai menyebar. Paham keagamaan yang keras menjadi pendorong sikap ektrem dan radikal, sehingga kehilangan sikap tengahan atau wasathiyah. Akhlak dalam berinteraksi sosial, berorganisasi, bermasyarakat, dan berbangsa pun menjadi tergerus dan retak. Batasan baik dan buruk, benar dan salah, pantas dan tidak pantas sebagai khazanah budi pekerti kolektif mengalami peluruhan. Agama oleh sebagian tokohnya dijadikan alat legitimasi merebut kue kekuasaan dengan sikap fanatik golongan yang berlebihan.

Oleh karena itu, menurut Haedar, saatnya organisasi-organisasi Islam seperti Muhammadiyah menggelorakan gerakan pencerahan akal budi dan keadaban public dalam perikehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara. Gerakan keteladanan penting dilakukan oleh seluruh warga dan elite organisasi dakwah Islam. Jika anggota, aktivis, kader, pimpinan Muhammadiyah dan ormas-ormas keagamaan lainnya tidak memberikan uswah hasanah dalam kehidupan kebangsaan berbasis nilai moralitas agama maka kepada siapa misi luhur tersebut harus diberikan?

Sidang Tanwir ditutup secara resmi oleh Wakil Presiden Muhammad Jusuf Kalla. Dalam sambutannya Kalla menegaskan bahwa menjadi Islam sebagai agama yang mencerahkan sangat penting karena Indonesia sebagai negara dengan penduduk Muslim terbanyak di dunia sejauh ini masih belum menunjukkan sikap dan prilaku yang sesuai harapan. Dari segi pengamalan ibadah maju pesat, juga dari segi akidah. Tapi dari segi pengamalan, kita masih sangat rendah.

Mengutip hasil studi yang dilakukan Hossein Askari, seorang guru besar politik dan bisnis internasional di Universitas George Washington, AS, untuk mengetahui di negara manakah di dunia ini nilai-nilai Islam paling banyak diaplikasikan. Hasilnya, dari 208 negara yang diteliti ternyata Denmark, Luksemburg, dan Selandia Baru sebagai negara lima besar yang paling Islami di dunia. Negara-negara lain yang menurut Askari justru menerapkan ajalan Islam paling nyata adalah Swedia, Singapura, Finlandia, Norwegia, dan Belgia.

“Lalu, bagaimana dengan Indonesia?” tanya Kalla yang kemudian dia jawab sendiri  dengan mengatakan bahwa Indonesia sebagai negara dengan penduduk Muslim terbanyak di duinia berada di posisi jauh di bawah. Indonesia berada di urutan ke-140. Tetangga kita Malaysia berada di posisi  yang lebih baik, yakni di urutan ke-33. Sementara negara-negara Islam lain seperti Kuwait berada di posisi ke-48, Arab Saudi di posisi ke-91 dan Qatar ke-111. Berdasarkan hasil penelitian Askari, kebanyakan negara Islam menggunakan agama sebagai instrumen untuk mengendalikan negara. Banyak negara yang mengakui diri Islami tetapi justru kerap berbuat tidak adil, korup, dan terbelakang. “Termasuk negara kita,” tandas Kalla. Oleh karena itu, menjadikan Islam sebagai agama yang mencerahkan harus terus menerus diupayakan. Tidak hanya oleh Muhammadiyah tapi juga oleh semua komponen masyarakat Muslim.

Risalah Pencerahan

Pencerahan merupakan nilai keutamaan yang tertanam dalam segenap kebaikan jiwa, pikiran, sikap, dan tindakan yang maslahat, berkeadaban, dan berkemajuan. Dengan berislam yang mencerahkan, setiap muslim senantiasa menyebarkan akhlak mulia yang menebar ihsan yang melampaui sekaligus rahmat bagi semesta alam. Sebaliknya Islam melarang umatnya menyebarkan akhlak yang tercela (al-akhlaq al-madhmumah) yang membawa kerusakan di muka bumi (fasad fil-ardl).

Jika Islam dihayati secara murni maka setiap muslim menjadi cerah hati, pikiran, sikap, dan tindakannya. Setiap muslim yang tercerahkan selalu berbuat benar, baik, cinta kasih, damai, kata sejalan tindakan, menebar kesalehan bagi diri, keluarga, masyarakat, bangsa, dan kemanusiaan universal, gemar bekerjasama (taawun) dalam kebaikan dan ketaqwaan, suka beramal salih, beramar ma’ruf-nahi munkar dengan cara yang ma’ruf, tidak akan mudah marah, buruk ujaran, iri, dengki, hasud, dendam, congkak, menebar permusuhan, dan segala perangai yang buruk. Islam yang mencerahkan belum menjadi kenyataan dalam kehidupan keummatan dan kebangsaan. Dalam kehidupan sehari-hari masih banyak terjadi kekerasan, sikap takfiri, penyebaran hoaks, intoleransi, ujaran kebencian dan permusuhan, serta praktik hidup yang menggambarkan kesenjangan antara lisan dan perbuatan.

Sebagai gerakan yang menisbahkan dirinya sebagai “pengikut Nabi Muhammad”, Muhammadiyah berusaha mengaktualisasikan Islam Berkemajuan dengan menghadirkan Islam sebagai agama pencerahan, pembangun kemajuan dan peradaban (din al-hadlarah). Karenanya, Tanwir Muhammadiyah tahun 2019 di Bengkulu meyampaikan Risalah Pencerahan sebagai berikut:

Pertama, beragama yang mencerahkan mengembangkan pandangan, sikap, dan praktik keagamaan yang berwatak tengahan (wasathiyah), membangun perdamaian, menghargai kemajemukan, menghormati harkat martabat kemanusiaan laki-laki maupun perempuan, menjunjung tinggi keadaban mulia, dan memajukan kehidupan umat manusia yang diwujudkan dalam sikap hidup amanah, adil, ihsan, toleran, kasih sayang terhadap umat manusia tanpa diskriminasi, menghormati kemajemukan, dan pranata sosial yang utama sebagai aktualisasi nilai dan misi rahmatan lil-‘alamin.

Kedua, beragama yang mencerahkan ialah menghadirkan risalah agama untuk memberikan jawaban atas problem-problem kemanusiaan berupa kemiskinan, kebodohan, ketertinggalan, dan persoalan-persoalan lainnya yang bercorak struktural dan kultural.  Gerakan pencerahan menampilkan agama untuk menjawab masalah kekeringan ruhani, krisis moral, kekerasan, terorisme, konflik, korupsi, kerusakan ekologis, dan bentuk- bentuk kejahatan kemanusiaan.

Ketiga, beragama yang mencerahkan dengan khazanah Iqra, menyebarluaskan penggunaan media sosial yang cerdas disertai kekuatan literasi berbasis tabayun, ukhuwah, ishlah, dan ta’aruf yang menunjukkan akhlak mulia. Sebaliknya menjauhkan diri dari sikap saling merendahkan, tajassus (saling memata-matai), su’udhan (buruk sangka), memberi label buruk, menghardik, menebar kebencian, bermusuh-musuhan, dan perangai buruk lainnya yang menggambarkan akhlak tercela.

Keempat, dalam beragama yang mencerahkan, Muhammadiyah memaknai dan mengaktualisasikan jihad sebagai ikhtiar mengerahkan segala kemampuan (badlul-juhdi) untuk mewujudkan kehidupan seluruh umat manusia yang maju, adil, makmur, bermartabat, dan berdaulat. Jihad dalam pandangan Islam bukanlah perjuangan dengan kekerasan, konflik, dan permusuhan.

Kelima, dengan spirit beragama yang mencerahkan, umat Islam dalam berhadapan dengan berbagai permasalahan dan tantangan kehidupan yang kompleks dituntut untuk melakukan perubahan strategi dari perjuangan melawan sesuatu (al-jihad li-al- mu’aradhah) kepada perjuangan menghadapi sesuatu (al-jihad li-al-muwajahah) dalam wujud memberikan jawaban-jawaban alternatif yang terbaik untuk mewujudkan kehidupan yang lebih utama.

Keenam, beragama yang mencerahkan diperlukan untuk membangun manusia Indonesia yang relijius, berkarakter kuat dan berkemajuan untuk menghadapi berbagai persaingan peradaban yang tinggi dengan bangsa-bangsa lain dan demi masa depan Indonesia berkemajuan yang dicirikan oleh kapasitas mental yang membedakan dari orang lain seperti keterpercayaan, ketulusan, kejujuran, keberanian, ketegasan, ketegaran, kuat dalam memegang prinsip, dan sifat-sifat khusus lainnya. Sementara nilai-nilai kebangsaan lainnya yang harus terus dikembangkan adalah nilai-nilai spiritualitas, solidaritas, kedisiplinan, kemandirian, kemajuan, dan keunggulan.tan2

Ketujuh, beragama yang mencerahkan diwujudkan dalam kehidupan politik yang berkeadaban luhur disertai jiwa ukhuwah, damai, toleran, dan lapang hati dalam perbedaan pilihan politik. Seraya dijauhkan berpolitik yang menghalalkan segala cara, menebar kebencian dan permusuhan, politik pembelahan, dan yang mengakibatkan rusaknya sendi-sendi perikehidupan kebangsaan yang majemuk dan berbasis pada nilai agama, Pancasila, dan kebudayaan luhur bangsa.

Kedelapan, Muhammadiyah sebagai gerakan Islam yang bermisi dakwah dan tajdid berkomitmen kuat untuk mewujudkan Islam sebagai agama yang mencerahkan kehidupan. Jiwa, alam pikiran, sikap, dan tindakan para anggota, kader, dan pimpinan Muhammadiyah niscaya menunjukkan pencerahan yang Islami sebagaimana diajarkan oleh Islam serta diteladankan dan dipraktikkan oleh Nabi akhir zaman.

Rekomendasi Tanwir

Selain melahirkan “Risalah Pencerahan” Sidang Tanwir Muhammadiyah juga menyampaikan Rekomendasi kehidupan keummatan, kebangsaan, dan kenegaraan sebagai berikut:

Pertama, menjadikan agama, Pancasila, dan kebudayaan luhur bangsa Indonesia sebagai fondasi nilai dan sumber inspirasi yang mendasar dalam mewujudkan kebijakan-kebijakan strategis negara serta arah moral-spiritual bangsa. Kebijakan-kebijakan pemerintah hendaknya tidak bertentangan dengan nilai-nilai dasar dan luhur yang hidup dalam jatidiri bangsa tersebut seraya menghindari primordialisme SARA (Suku, Agama, Ras, dan Antar golongan) yang dapat meruntuhkan keutuhan, persatuan, dan kesatuan bangsa.

tan5Kedua, menegakkan kedaulatan negara di bidang politik, ekonomi, dan budaya termasuk dalam pengelolaan sumberdaya alam melalui kebijakan-kebijakan strategis yang pro-rakyat dan mengutamakan hajat hidup bangsa. Dalam menjalankan amanat agar benar-benar menjaga kedaulatan negara dari penetrasi asing dalam segala bentuknya, mengutamakan sumberdaya dalam negeri, menegakkan kedaulatan pangan, dan memutus mata-rantai ketergantungan impor yang merugikan kehidupan rakyat dan masa depan bangsa.

Ketiga, mengatasi kesenjangan sosial-ekonomi secara progresif dengan kebijakan-kebijakan yang berani khususnya dalam menghadapi sekelompok kecil yang menguasai ekonomi dan kekayaan Indonesia agar tidak merugikan hajat hidup mayoritas rakyat sesuai dengan Sila Keadilan Sosial Bagi Seluruh Rakyat Indonesia dan amanat pasal 33 Undang-Undang Dasar 1945.

Keempat, melakukan rekonstruksi pendidikan dan pembangunan sumberdaya manusia berbasis pada karakter bangsa sebagai prioritas penting dalam kebijakan pemerintah untuk menjadikan Indonesia unggul dan berdaya-saing tinggi dengan negara-negara lain yang telah maju. Hendaknya ditempuh kebijakan yang benar-benar terfokus, tegas, dan jelas dalam memanfaatkan 20 persen anggaran pendidikan untuk semata-mata pembangunan sumberdaya manusia Indonesia yang unggul sebagaimana amanat konstitusi.

Kelima, menjalankan pemerintahan dengan prinsip negara hukum serta menegakkan hukum secara adil dan tanpa diskriminasi. Hukum jangan dijadikan alat kekuasaan dan politik tertentu yang merugikan kepentingan umum dan menyebabkan hilangnya kesamaan kedudukan semua orang di depan hukum (equality before the law). Pejabat negara yang diberi jabatan dalam penegakkan hukum hendaknya bebas dari partai politik dan kepentingan politik apapun yang menyebabkan terjadinya politisasi dan penyalahgunaan hukum yang merusak tatanan berbangsa dan bernegara.

Keenam, melakukan kebijakan reformasi birokrasi yang progresif dan sistemik dengan prinsip good governance serta birokrasi pemerintahan untuk semua rakyat yang menjujung tinggi meritokrasi dan profesionalisme tanpa disandera oleh kepentingan-kepentingan politik partisan dari para pejabat pemerintahan maupun partai politik dan golongan. Dalam reformasi birokrasi tersebut penting menjadikan pemberantasan korupsi sebagai agenda kebijakan utama sehingga pemerintahan bebas dari penyakit yang menghancurkan tatanan bangsa dan negara.

Ketujuh, melaksanakan politik luar negeri yang bebas aktif dan berdaulat dalam melindungi kepentingan dalam negeri, serta menjadikan Indonesia selaku negara dengan penduduk Muslim terbesar sebagai kekuatan strategis dalam percaturan global. Dalam sejumlah hal yang menyangkut kepentingan dalam negari serta tegaknya perdamaian dunia hendaknya Indonesia lebih tegas dan berani dalam menjalankan kebijakan politik luar negeri sesuai jatidiri negara yang berdaulat.

Kedelapan, penataan kembali pelaksanaan kebijakan kesehatan termasuk didalamnya Sistem Jaminan Kesehatan, peningkatan peran perempuan dalam pembangunan, fasilitasi kaum difabel dan penanganan kebencanaan yang lebih optimal dalam rangka menciptakan kesejahteraan yang berkeadilan terhadap mereka yang membutuhkan.

Kesembilan, penguatan organisasi kemasyarakatan dan civil society diantaranya Muhammadiyah yang telah berjuang dan berperanserta mendirikan Republik Indonesia agar benar-benar memiliki posisi serta peranan penting dan strategis serta tidak mengalami peminggiran dan diskriminasi dalam kehidupan bernegara. Organisasi kemasyarakatan tersebut berfungsi sebagai kekuatan moral yang menegakkan nilai-nilai utama kebangsaan sekaligus menjadi kekuatan kritik-konstruktif dan penyeimbang demi tegaknya Indonesia sebagai negara-bangsa yang benar-benar merdeka, bersatu, berdaulat, adil, dan makmur sebagaimana dicita-citakan oleh para pendiri Negara Kesatuan Republik Indonesia.

 

 

Close