Categories
Berita Berita KSP Kedeputian Kedeputian II

Moeldoko : Kebijakan Tata Kelola dan Tata Niaga Kratom Harus Segera Dirumuskan

Jakarta – Kepala Staf Kepresidenan, Jenderal TNI (Purn) Moeldoko, menegaskan kebijakan terkait tata kelola dan tata niaga tanaman kratom harus segera dirumuskan, mengingat tanaman yang memiliki nama latin Mytragina speciosa tersebut memiliki potensi ekonomi yang besar dan salah satu sumber mata pencaharian masyarakat, khususnya di Kalimantan Barat.

“Kenapa sih kita harus ribet banget ngurusi kratom? karena ini perintah Presiden untuk segera menyelesaikan persoalan kratom. Kratom ini jadi sandaran hidup masyarakat khususnya di Kalimantan Barat,” tegas Moeldoko saat memimpin rapat perumusan kebijakan terkait kratom, di gedung Bina Graha Jakarta, Senin (22/1).

Rapat dihadiri oleh perwakilan dari Kementerian Kesehatan, Kementerian Perdagangan, Kementerian Keuangan, Kementerian Pertanian, Badan Narkotika Nasional (BNN), Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), dan Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM).

Moeldoko mengingatkan perumusan kebijakan terkait tata kelola dan tata niaga kratom harus dilakukan dengan cepat dan tepat. Sebab, persoalan kratom tidak hanya berkaitan dengan kesehatan dan narkotika. “Ada persoalan sosial, lingkungan, dan macam-macam. Untuk itu kita harus ambil kesimpulan dengan tepat. Kita nggak boleh sembarangan untuk membuat keputusan,” ujarnya.

“Kratom ini bukan seperti pohon ganja yang bisa dipotong begitu saja. Kratom ini pohon besar yang salah satu fungsinya ekologi dan jumlahnya puluhan juta,” tambah Moeldoko.

Kepala Staf Kepresidenan, Jenderal TNI (Purn) Moeldoko, didampingi Deputi II KSP, Abetnego Tarigan, memimpin rapat perumusan kebijakan terkait kratom, di gedung Bina Graha Jakarta, Senin (22/1).

Panglima TNI 2013-2015 ini menyampaikan pemerintah melalui BRIN telah melakukan berbagai kajian terkait kratom, mulai dari aspek kandungannya, ekologis, hingga sosial ekonomi. Kajian ini akan menjadi landasan untuk menetapkan kebijakan tentang tata kelola dan tata niaga kratom. Salah satu hasil kajian BRIN, sambung Moeldoko, kandungan yang ada di dalam kratom aman jika dikonsumsi dalam batas kewajaran atau dosis secukupnya. “Kalau ini kita jalankan, yang penting ada batasan, batasnya clear,” katanya.

Moeldoko juga meminta kementerian/lembaga terkait segera menyusun standarisasi kratom untuk ekspor sehingga dapat memenuhi kualitas dan keamanan yang dipersyaratkan oleh negara tujuan.
“Banyak petani kita atau pedagang kita dirugikan, karena setelah ekspor barangnya ditolak karena tidak standar,” pungkas Moeldoko.

Seperti diketahui, sejak Agustus 2022, Kantor Staf Presiden mengawal isu tata kelola dan tata niaga komoditas kratom di Indonesia. Hal ini menindaklanjuti perintah Presiden Joko Widodo terkait penyelesaian persoalan kratom. Di mana Presiden mengamanatkan perumusan kebijakan kratom harus dilakukan dengan hati-hati, melibatkan pemangku kepentingan di dalam pemerintah maupun di luar pemerintah, serta memperhatikan aspek kesehatan, perdagangan, pertanian, penegakan hukum, dan lingkungan hidup.

Komoditas kratom sendiri memiliki potensi ekonomi luar biasa. Komoditas kratom Indonesia sangat dibutuhkan oleh 15 juta warga Amerika Serikat.

Categories
Berita Kedeputian Kedeputian II

KSP Kawal Akselerasi Peralihan Hak Atas Tanah Perluasan RSUP dr.M. Djamil, Moeldoko: Gunakan Pendekatan Hati

Jakarta – Kepala Staf Kepresidenan, Jenderal TNI (Purn) Dr. Moeldoko mewanti-wanti, agar menggunakan pendekatan hati dalam pelaksanaan peralihan hak atas tanah Asrama TNI Sawahan untuk perluasan Rumah Sakit Umum Pusat (RSUP) dr. M. Djamil yang berada di Padang, Sumatera Barat.

Hal ini disampaikan terkait adanya indikasi isu pada pelaksanaan penerapan kebijakan Kelas Rawat Inap Standar (KRIS) yang diterapkan di RSUP dr. M. Djamil. Dalam praktek di lapangan, Kantor Staf Presiden (KSP) telah menyelesaikan isu pengadaan lahan untuk perluasan RSUP dr. M. Djamil, hal ini untuk mendukung implementasi kebijakan KRIS sesuai dengan instruksi Presiden Joko Widodo dalam mendukung perbaikan layanan sistem kesehatan nasional.

“Ini sebetulnya sudah tidak ada masalah, TNI sudah oke. Tapi, jangan lagi bicara angka, tapi bicara hati, tolong kompromikan antara Kemenkes, pihak RS dan TNI,” ujar Moeldoko dalam Rapat Koordinasi Akselerasi Peralihan Hak Atas Tanah Asrama TNI Sawahan untuk RSUP dr. M. Djamil di gedung Bina Graha, Jakarta, Jumat (19/1).

Sebelumnya, Moeldoko dalam kunjungannya ke Asrama TNI di Sawahan, Kota Padang telah berkomunikasi dengan Kepala Staf Angkatan Darat terkait urgensi peralihan hak atas tanah asrama TNI untuk pengembangan RSUP dr.M. Djamil. Moeldoko mengungkapkan bahwa KSAD telah menyetujui proses peralihan hak atas tanah lebih lanjut.

“Saya sudah komunikasi ke KSAD. Nanti tinggal legalitas dari Kemenkeu dan Kemenkes ini harus cepat tidak bisa ditunda karena program di RS (KRIS) harus segera,” imbuh Moeldoko

Menurut Moeldoko, dalam melihat permasalahan peralihan hak atas tanah asrama TNI yang akan dijadikan fasilitas kesehatan RSUP dr.M. Djamili ini perlu berorientasi pada penguatan kapasitas pelayanan dan kesejahteraan masyarakat. Nantinya, penggunaan lahan tersebut akan membawa berbagai manfaat, terutama pada peningkatan layanan kesehatan. “Jadikan ini momentum untuk kontribusi dalam memberikan kesejahteraan, nantinya masyarakat dan TNI juga bisa menikmati,” ungkapnya.

Mengenai relokasi asrama TNI, Moeldoko menambahkan agar hal tersebut dapat diselesaikan tanpa konflik serta diberikan kompensasi yang sesuai. Moeldoko juga mengarahkan jajaran Kedeputian II KSP untuk berkomunikasi secara intensif dengan Kementerian Kesehatan dan Kementerian PUPR untuk dapat mendukung relokasi asrama TNI tersebut.

“Sudah ada kesanggupan dari kemenkes untuk memberikan lahan pengganti, ini bisa dilanjutkan pembicaraan dengan PUPR untuk mendukung pembangunannya,” tutup Moeldoko.

Sebagai informasi, RSUP dr. M. Djamil di padang, Sumatera Barat merupakan UPT rumah sakit vertikal di Kementerian Kesehatan (kemenkes). Rumah sakit ini, akan menjadi percontohan penerapan kebijakan Kelas Rawat Inap Standar (KRIS). Pada tahap awal pelaksanaan KRIS, program yang menghapus kelas 1,2, dan 3 dalam JKN-KIS tersebut akan diterapkan pada rumah sakit khusus vertikal milik Kementerian Kesehatan (Kemenkes). Pelaksanaan KRIS merupakan amanah Undang-Undang Nomor 40 tahun 2004 tentang Sistem Jaminan Sosial Nasional (SJSN), yang bertujuan untuk memberikan fasilitas dan pelayanan kesehatan yang sama bagi peserta BPJS Kesehatan.

Categories
Berita Kedeputian Kedeputian I

KSP : Penuntasan Sampah Kota Cilegon Bisa Jadi Praktik Baik untuk Daerah Lain

Cilegon – Kantor Staf Presiden menilai penuntasan sampah di kota Cilegon bisa menjadi contoh praktik baik bagi daerah lain. Kota Cilegon saat ini dapat mengelola sampah 30 ton per hari menjadi Bahan Bakar Jumputan Padat (BBJP) yang sudah digunakan untuk co-firing Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU) Suralaya.

“Kota Cilegon ini spesial karena untuk produk BBJP banyak offtaker-nya. Selain menyelesaikan sampah Kota Cilegon, co-firing juga dapat mendukung transisi energi,” ujar Tenaga Ahli Utama Kantor Staf Presiden, Trijoko M. Solehoedin, saat melihat langsung pengelolaan sampah di TPSA Bagendung, kota Cilegon, Jum’at (18/1).

Teknik co-firing sendiri merupakan salah satu strategi untuk mulai mengurangi konsumsi batu bara dalam pengoperasian pembangkit listrik. Caranya adalah dengan menambahkan bahan bakar lain, seperti biomassa yang dibuat dari sampah atau limbah.

Trijoko mengatakan pengelolaan sampah perkotaan yang tuntas merupakan hal penting untuk dilakukan karena sampah dapat menimbulkan berbagai persoalan lingkungan. Untuk itu, sambung dia, Kantor Staf Presiden mendorong pengelolaan sampah dengan teknologi Solid Recovered Fuel/Refuse Derived Fuel (SRF/RDF), yakni mengubah sampah menjadi bahan bakar alternatif. “Kita akan dorong pengembangan sarana pengolahan sampah Kota Cilegon hingga mampu mengolah seluruh volume sampah harian Cilegon, yaitu sekitar 300 ton/hari” katanya.

Trijoko juga menekankan pentingnya percepatan pembentukan kelembagaan Badan Layanan Umum Daerah (BLUD) sebagai pengelola. Dengan demikian pemerintah kota Cilegon akan memiliki keleluasaan yang lebih besar dalam pengelolaan dan kerjasama bisnis dengan para offtaker.

“Sampah ini cost center. Tapi dengan pengolahan sampah menjadi BBJP ini, Pemkot tidak perlu lagi terus-terusan menambah TPA baru, mengurangi resiko kebakaran TPA sekaligus mengurangi emisi. Konsep pengelolaan sampah secara open dumping sebaiknya dihentikan karena memiliki resiko lingkungan yang tinggi”, jelas Trijoko.

Di kesempatan yang sama, Wali Kota Cilegon, Heldy Agustian, memastikan pemerintah kota Cilegon akan terus meningkatkan kapasitas pengelolaan sampah dengan mesin untuk memenuhi kebutuhan pembeli atau offtaker, terutama kebutuhan co-firing biomassa PLTU Suralaya. “Kita sangat beruntung karena memiliki offtaker yang sudah jelas, yaitu PLTU Suralaya. Sekarang kita baru bisa supply 30 ton sampah per hari, sedangkan PLTU Suralaya membutuhkan co-firing biomassa hingga 2.000 ton per hari,” terang Heldy.

Sementara itu, General Manager PLTU Suralaya, Irwan Edi Syahputra Lubis, menyambut baik komitmen pemerintah kota Cilegon dalam mengelola sampah menjadi BBJP. Hal ini sejalan dengan komitmen PLTU Suralaya untuk terus mendorong co-firing PLTU dengan biomassa. “Karena dapat meningkatkan bauran energi, menekan emisi karbon, sekaligus menumbuhkan ekonomi masyarakat,” ucap Irwan.

Pengelolaan sampah yang tuntas akan mendukung transisi energi di Indonesia. Seperti diketahui, pemerintah menargetkan capaian bauran energi sebesar 23 persen pada 2025. Untuk mencapai target tersebut, pemerintah telah melakukan berbagai upaya. Salah satunya program co-firing biomassa pada PLTU.

Categories
Berita Kedeputian Kedeputian I

KSP : Pemimpin Dunia Apresasi Kerja Keras Indonesia Turunkan Emisi Karbon

Dubai – Deputi I Kepala Staf Kepresidenan, Febry Calvin Tetelepta, menyampaikan pemimpin dunia mengapresiasi kerja keras pemerintah Indonesia dalam mencapai nol emisi karbon pada 2060. Apresiasi tersebut disampaikan pada Forum Abu Dhabi Suistainability Week (ADSW), di Dubai.

“Kerja keras Indonesia untuk mencapai nol emisi karbon pada 2060 bentuk komitmen nyata dari Presiden Jokowi untuk membangun negara makmur dan berkelanjutan dengan perekonomian inklusif,” kata Feby di sela-sela menghadiri Forum ADSW, di Dubai, Rabu (6/12).

Deputi Bidang Infrastruktur, Energi, dan Investasi KSP ini menyebut beberapa kerja keras pemerintah dalam mencapai nol emisi karbon. Diantaranya memperbaiki pengelolaan forest and other land us(FOLU) dan mempercepat transisi energi baru terbarukan (EBT). Dalam pengelolaan FOLU, sambung dia, pemerintah terus menjaga dan memperluas hutan manggrove serta merehabilitasi hutan dan lahan. “Penurunan angka deforestasi pada titik terendah dalam dua puluh tahun terakhir. Kemudian pembangunan persemaian dalam skala besar berkapasitas 75 jta bibit per tahun,” terang Febry.

Sementara pada percepatan transisi EBT, jelas dia, pemerintah mengembangkan energi baru terbarukan terutama energi surya, air, angin, panas bumi, dan arus laut, serta pengembangan biodiesel, bioethanol, dan biofatur. Pada 2022, porsi energi terbarukan dalam bauran energi nasional mencapai 11,3 persen, meningkat dari 9,1 persen pada 2021.

“Salah satu milestone Net Zero Emission 2060 adalah pemanfaatan EBT hingga 23 persen di tahun 2025. Ini perlu kerja keras dan cerdas di ujung masa pemerintahan Presiden Jokowi,” tuturnya.

Masih menurut Febry, untuk mencapai target nol emisi karbon pada 2060, Indonesia juga harus mampu meningkatkan pendanaan iklim, yakni dengan mengundang sejumlah pihak seperti mitra bilateral, investasi swasta, filantropi, dan negara-negara sahabat. Untuk itu, kehadiran pemerintah Indonesia pada Forum ADWS menjadi penting. Sebab forum yang dihadiri oleh para pemimpin dunia, investor, pelaku usaha, dan inovator EBT tersebut memiliki komitmen sama, yakni penguatan pendanaan iklim untuk mempercepat transisi energi.

“Pada forum ADSW peserta juga menyepakati komitmen untuk menyatukan berbagai sumber pendanaan untuk mendukung transisi energi dan pengurangan emisi karbon”, ucapnya.

Pada kesempatan itu, Febry juga meyampaikan kerja keras pemerintah Indonesia dalam mencapai nol emisi karbon juga telah memunculkan kepercayaan sejumlah negara. Terbukti Indonesia mendapatkan kelanjutan kontribusi pemerintah Norwegia sebesar USD 100 juta dalam skema result based payment untuk kinerja penurunan deforestasi periode 2017-2018 dan 2018-2019.

“Pendanaan ini bentuk pengakuan global atas prestasi Indonesia dalam menurunkan emisi melalui penurunan deforestasi dan degradasi hutan,” pungkas Febry.

Categories
Berita Kedeputian Kedeputian I

KSP : Pembangunan Infrastruktur di Pulau 3T Terus Dikebut

Maluku Barat Daya – Deputi I Kepala Staf Kepresidenan, Febry Calvin Teteleta, meninjau pembangunan infrastruktur di pulau Babar dan Moa, kabupaten Maluku Barat Daya, Selasa (28/11). Kunjungan lapangan ini untuk memastikan pembangunan infrastrukur di dua pulau terdepan yang berbatasan dengan Australia dan Timor Leste tersebut berjalan dengan baik.

“Sesuai arahan Presiden Jokowi, kami ingin memastikan bahwa negara hadir hingga ke penjuru Nusantara, termasuk di pulau-pulau yang menjadi beranda depan Indonesia,” kata Febry.

Pembangunan infrastruktur di pulau Babar berupa proyek jalan dan jembatan. Yakni, meliputi preservasi jalan Tepa-Masbuar-Letwurung dan jalan di pulau Marsela, serta pembangunan jembatan Loke Imroing. Sementara di pulau Moa, pembangunan titik sumur bor untuk mendukung ketersediaan air bagi masyarakat, termasuk untuk peternakan kerbau moa yang menjadi sektor unggulan kabupaten Maluku Barat Daya.

“Tahun lalu (2022) sudah dibangun dua titik sumur bor. Tahun ini ada tiga titik tambahan yang sedang dikerjakan. Dan tahun depan akan dibangun lagi satu buah embung untuk masyarakat pulau Moa,” terang Febry.

Deputi Bidang Infrastruktur, Energi, dan Investasi Kantor Staf Presiden ini, mengatakan pembangunan infrastruktur di pulau-pulau terdepan, terluar, dan tertinggal (3T) merupakan bagian dari visi pembangunan Indonesia-sentris yang digencarkan pemerintah untuk pemerataan pembangunan di seluruh wilayah Indonesia, termasuk daerah-daerah yang sulit dijangkau.

Pembangunan infrastruktur di pulau-pulau 3T, sambung dia, sangat penting bagi masyarakat daerah kepulauan. Sebab infrastruktur yang memadai akan mempermudah akses masyarakat terhadap berbagai layanan dasar, seperti pendidikan, kesehatan, dan ekonomi. “Untuk itu pemerintah terus kebut pembangunannya,” tegas Febry.

Khusus di provinsi Maluku, jelas Febry, ada delapan pulau yang menjadi prioritas pembangunan. Yakni, pulau Aru, Babar, Buru, Kei Besar, Moa, Selaru, Seram, dan Wetar.”Ini sudah ditetapkan dalam RPJMN 2020-2024,” jelas pria yang akrab disapa FCT ini.